Tidak semua prosedur keamanan di bandara Amerika merepotkan. Tapi bagi kebanyakan orang asing, apalagi dari Indonesia, umumnya mereka akan mengalami kerepotan itu. Pertama pada waktu memasuki AS. Berbagai pertanyaan, pemeriksaan, hingga mengaduk-aduk isi koper sudah lazim terjadi. Setelah memasuki AS, hal seperti itu tidak otomatis berhenti, meski kita melakukan perjalanan di dalam negeri.
Setelah pengalaman "diinterogasi" di bandara St Paul Minneapolis, saya sempat tertahan sedikit lama saat terbang dari Washington ke Indianapolis. Entah apa keistimewaan yang saya miliki, yang jelas saya terpilih untuk diperiksa secara lebih teliti meski ketika melewati metal detektor tak ada bunyi yang terdengar. Para petugas tetap menyuruh saya memasuki ruang kaca berbentuk lingkaran. Di dalamnya saya diminta meregangkan tangan dan kaki, lalu ada bagian dari kaca itu berputar seperti men-scan tubuh saya. Kata orang-orang, di monitor mereka, tubuh saya itu akan terlihat seperti tak berbaju. Walaaah.
Setelah tak ditemukan apapun, seorang petugas mempersilakan saya keluar, lalu menanyakan beberapa hal mengenai keperluan saya melakukan perjalanan. Dan mereka percaya dengan jawaban saya. Mungkin karena tidak ditemukan apapun yang mencurigakan dalam tas saya yang sudah di-scan terlebih dahulu. Apalagi saat itu saya berjalan dengan teman Amerika, Shawn yang baik budi.
Umumnya pemeriksaan hanya dilakukan saat kita akan terbang. Setelah mendarat di kota tujuan, tak ada lagi pemeriksaan. Kecuali bila kita dari luar negeri dan akan masuk AS.
Pada penerbangan selanjutnya dari Indianapolis ke Orlando, Florida, peristiwanya sungguh mengejutkan saya. Biasanya dalam rombongan kami yang berempat, Shawn, Nurul, Nenden, dan aku, selalu aku yang kena pemeriksaan. Tapi di bandara Indianapolis, aku lolos dengan cepat. Hanya dilihat passport-nya, boarding pas, scan tas, dan "you are clean, have a nice flight..."
Pada penerbangan selanjutnya dari Indianapolis ke Orlando, Florida, peristiwanya sungguh mengejutkan saya. Biasanya dalam rombongan kami yang berempat, Shawn, Nurul, Nenden, dan aku, selalu aku yang kena pemeriksaan. Tapi di bandara Indianapolis, aku lolos dengan cepat. Hanya dilihat passport-nya, boarding pas, scan tas, dan "you are clean, have a nice flight..."
Aku nyaris gak percaya melewati pemeriksaan itu. Tidak diminta masuk ruang khusus, tidak ditanya apapun. Sementara Nurul diminta menyalakan laptop, bahkan Shawn tertahan di belakangku karena dia bawa yoghurt. Btw, di AS, kita dilarang membawa cairan di dalam tas kita untuk memasuki pesawat. Saya sempet dengar dia bertanya apakah boleh meminumnya saat itu, tapi sang petugas menggeleng dan "mengamankan" yoghurt itu.
Namun keberuntunganku di Indianapolis tidak lagi mengikuti saat aku meninggalkan Orlando menuju Minot, North Dakota, melalui Minneapolis. Bandara Orlando yang besar dan indah memang lebih cermat mengawasi orang. Pasalnya banyak imigran gelap datang lewat Florida. Di kota ini konon banyak orang latin dan juga Cuba. Petugas keamanan bahkan melarang penumpang meninggalkan barang-barangnya. Koper atau tas tak bertuan akan dicurigai berisi peledak mungkin.
Pagi ini, Minggu 27 Juli 2008, setelah berangkat dari hotel Embassy Suites dan mengembalikan mobil keren Chrysler 300 di bandara, kita mulai antre untuk check in. Barang yang makin banyak membuat semua membawa dua kopor besar yang akan masuk bagasi, dan bawaan lain yang dibawa ke kabin. Setelah itu, kita masuk ke pemeriksaan yang berupa loket-loket dengan alat scanner dan ruang-ruang kaca di baliknya.
Shawn berada di depan, lalu aku, disusul Nurul dan Nenden. Shawn dengan segera lolos dari pemeriksaan. Sedangkan aku, setelah melewati metal detektor yang tak berbunyi, diminta untuk masuk ke ruang kaca. Holy shit! Dasar babi siaaaaaal...
Di sana aku dijelaskan bahwa aku akan diperiksa menggunakan alat. Petugasnya kurang lebih bilang, bahwa dia akan memeriksa dan menggunakan alat elektronik. Aku diminta tidak panik. Lalu aku diminta duduk di salah satu dari duan kursi yang ada. Di situ aku diminta mengangkat kaki kiri dan kanan, lalu alat serupa tongkat diarahkan menelusuri kaki. Gak ada yang bunyi. Aman. Lalu aku diminta berdiri di karpet yang ada gambar kakinya. Aku diminta meletakkan telapak kaki di sana (ini gak pake sepatu lho, wong kalo masuk pemeriksaan semua orang harus lepas alas kaki, mana kaos kakiku bau lagi... hah). Di sana aku diminta merentangkan tangan, lalu kembali alat itu digerakkan menelusuri badan, tangan dan kaki. Gak ada bunyi.
Lalu petugas bilang bahwa ia akan memeriksa badanku. Mulai dari kaki, tangan, perut, punggung, semua ditepuk-tepuk. Takut ada bom nempel kali. Bersih. Dan aku diminta keluar dari ruang kaca itu. Kirain semua udah selesai. Eh, dia bilang, silakan ikuti petugas ini. Setaaaaan. Apa lagi nih?
Petugas berkulit cokelat kehitaman mirip orang Latin itu lalu memintaku menunjukkan semua barangku. Dia ambil semua, lalu dibawa ke sebuah meja. Aku diminta berada di depan meja sementara dia membuka semua tas dan memeriksa jaket. Pertama dia menanyai apa keperluanku bepergian. Urusannya apa, lalu siapa aku. Dia juga menanyakan berapa lama akan ada di AS dan ke mana aja, sambil memeriksa kartu-kartu yangb ada di dompet. KTP, SIM, dll dia cocokkan fotonya. Nah, untung di dalam dompet dia menemukan kartu dari Deplu AS yang menerangkan bahwa pembawa kartu adalah tamu pemerintah AS dan agar dibantu.
Dia berkernyit membaca kartu itu lalu tersenyum dan berkata, "Yeah, I read your card." Lalu dia bertanya dengan ramah, ke mana aja aku selama di Orlando. Aku bilang, aku mengunjungi koran setempat dan stasiun TV. Lalu dia tanya, "Kamu gak ke Disney?" Aku bilang, udah kemaren. Aku juga ke Universal Studio. Lalu dia bilang, kalau kamu ke Orlando, kamu harus ke Disney. Dia lalu cerita bahwa rumahnya dekat Universal. Sambil terus memeriksa isi tasku nih... bukan diem aja. Lalu aku tanya, berarti kamu bisa masuk gratis dong?
Iya katanya. Aku hampir selalu ke sana di akhir pekan.
Aku tanya, "so, it's done?"
"Yeah, you good," sambil menepuk punggungku.
"Thanks," jawabku.
Nah, setelah aku pake sepatu dan jaket, dan akan mencari yang lain, ternyata Shawn juga diperiksa disampingku. Begitu juga dua teman perempuan dari Indonesia. Lah, bukannya Shawn udah lolos? Aku tanya ke dia, semua dalam rombongan diperiksa karena aku diperiksa. Jadi, tadi dia diminta balik lagi, karena ketahuan pergi satu rombongan dengan aku. Walaaaaah... mesakne tenan londo siji iki. Hahahahaha.
Tapi petugas berulang kali minta maaf atas ketidaknyamanan ini setelah mereka selesai memeriksa. Aku juga minta maaf pada Shawn serta yang lain karena mereka ikut diperiksa gara-gara jalan ama aku. Kata Shawn, "Harusnya Presiden Bush yang minta maaf pada kamu, bukan kamu yang minta maaf."
Baiklah teman, aku akan menuntut permintaan maaf dari Pak Bush. hehehehe.