Dalam penerbangan Tokyo-Minneapolis, dua kali saja aku bangun. Dan keduanya karena diberi makan. Sepertinya aku tidur pulas karena itu memang waktu tidur di Indonesia, alias tengah malam hingga dini hari, meski dari jendela pesawat, matahari bersinar terang. Tak semua makanan kuhabiskan. Tumben, biasanya kalo gratis, aku jadi lupa diet. Gak nafsu aja rasanya. Lagian makanannya juga kurang menarik. Kayanya telur kopyok dicampur macem2 dan ada juga sandwich yang isinya tuna dingin. Yang jelas saat kupingku jadi budeg karena perbedaan tekanan, dan pesawat mulai mengurangi ketinggian, aku jadi terjaga penuh. Here I come America...
Dari jendela pesawat tampak tanah-tanah hijau yang terkotak-kotak rapi. Gile londo Amerika ini, sempet2nya ngotakin tanah. Di beberapa lokasi mulai terlihat danau-danau kecil dan juga aliran sungai. Kami memang terbang di atas Minnesota, country with thousands lake. Tak heran bila di sana danau di sini danau. Dari atas sebenernya lebih mirip kubangan sih...
Saat pesawat mendarat di Lindbergh, Minneapolis, aku teringat lagi masalah interogasi. Bakal nunggu sampe malam nih, pikirku. Lorong-lorong yang kulalui sebelum sampai gerbang bea cukai rasanya tidak bersahabat. Di mana-mana petugas keamanan. Toilet pun tak ada, padahal sedikit terkencing-kencing. Lorong kemudian berakhir pada sebuah tempat mirip aula yang dikelilingi kaca. Di hadapan kami ada loket-loket yang mirip kasir di carrefour. Penumpang yang masuk ke situ dibagi menjadi dua kelompok. Warga AS, membentuk barisan-barisan antrean di kiri, pendatang di kanan.
Saat antre, aku lihat Pak Santosa sedang berada di depan petugas. Passport-nya diperiksa, Ia ditanya-tanya. Pasti setelah ini disuruh ikut petugas lain, batinku. Eh.. taunya dia lewat. Celingukan dia mencari bagasinya, karena setelah lewat border ini, orang bisa ambil bagasi.
Di depanku masih ada dua orang yang antre. Semua lolos, dan sepertinya lancar. Aku belum liat satu orang pun digelandang ke sisi kanan, yang bertuliskan passport check. Tiba giliranku, aku berusaha tenang dan ramah. "Mornin' Sir...," kataku. Padahal dalam hati deg..deg..sir. Dia melihatku, menanyakan passport, lalu mengerutkan dahinya. Matanya memandang tajam ke passport, lalu ke wajahku, lalu ke passport lagi.
Di depanku masih ada dua orang yang antre. Semua lolos, dan sepertinya lancar. Aku belum liat satu orang pun digelandang ke sisi kanan, yang bertuliskan passport check. Tiba giliranku, aku berusaha tenang dan ramah. "Mornin' Sir...," kataku. Padahal dalam hati deg..deg..sir. Dia melihatku, menanyakan passport, lalu mengerutkan dahinya. Matanya memandang tajam ke passport, lalu ke wajahku, lalu ke passport lagi.
"What are you doin in United States?" tanya dia.
"US Department of State invite me to join international visitor program," jawabku. Gak ngerti Inggrisnya bener apa nggak.
"How long you will stay?"
"Three weeks," jawabku.
"And where you gonna stay?"
Terbata-bata aku sebut alamat Departemen Luar Negeri AS dan tunjukkan alamat itu. Si petugas yang tegap dan pirang itu diam. Memang seusai bertanya, dia selalu mencocokkan dengan data yang kubawa, baik itu visa maupun kartu J1.
"Say it again, what is your purpose in United States?" tanyanya. Woooo... dasar londo goblog. Aku jawab lagi, "international visitor program. US Dept of State invite me."
Dia liatin aku lagi. Kayanya orang-orang lain udah pada lewat di loket-loket lain, kok aku masih ditahan. Dasar monyet siaaaaaaal...
Petugas berpakaian biru tua dengan badge2 perak itu rupanya melihat aku gelisah. Dan itu membuat dia memutuskan bahwa aku harus diperiksa lebih lanjut. Dasar londo ndeso. Gak tau weruh ndoro...
"We will have another procedur. You have to answer some question, fill the form. An officer will show you the way," ujarnya sambil mencari petugas lain.
"We will have another procedur. You have to answer some question, fill the form. An officer will show you the way," ujarnya sambil mencari petugas lain.
Orang-orang yang antre di belakangku sepertinya tau ada masalah. Aku sendiri sudah menetapkan sebelum berangkat, bahwa kondisi defaultnya aku akan diperiksa. Itu membuatku agak pasrah. Lalu petugas yang dimaksud datang. "Follow this gentlemen," kata si pirang.
Dari belakang petugas itu, aku liat sabuknya digantungi borgol, pentungan, alat komunikasi, dan pistol. (Setelah aku amati kemudian, semua petugas keamanan dan perbatasan ternyata bawa pistol. Tapi gak tau juga ya kalo ternyata itu pistol air. Males nyoba).
Dari belakang petugas itu, aku liat sabuknya digantungi borgol, pentungan, alat komunikasi, dan pistol. (Setelah aku amati kemudian, semua petugas keamanan dan perbatasan ternyata bawa pistol. Tapi gak tau juga ya kalo ternyata itu pistol air. Males nyoba).
Aku masuk ke ruang pemeriksaan khusus. Tempatnya seperti tempat nunggu penerbangan. Pengen aku foto sih. Tapi bisa jadi nambah masalah...hehehehe.. Di sana para petugas berada di balik meja panjang. Sedangkan yang diperiksa, disediakan kursi-kursi berjajar. Rapi, bersih, tapi masih kaku. Tidak ada penumpang lain selain aku. Ini menguntungkan karena aku tidak perlu antre. Soalnya, dari cerita yang beredar, satu pemeriksaan bisa berlangsung setengah jam lebih, sementara jumlah petugas dan yang diperiksa tidak sebanding. Mereka memang memberi nomor urut sih, cuma karena aku sendiri, seorang petugas langsung memanggil. Pertanyaannya sama, urusan ke AS apa, berapa lama, tinggal di mana, kontaknya siapa. Petugas itu lalu menyodorkan formulir untuk diisi. Pertanyaannya, sekolah di mana, kerja di mana, siapa bapakku, ibuku, tanggal lahirnya, alamat di Indonesia, nomor yang bs dihubungi, dll.
Saat aku mengisi itu, beberapa orang lain masuk. I'm not the only one. Untung aku udah duluan. Dan karena aku menyerahkan undangan dari Departemen LN yang isinya menerangkan bahwa aku tamu negara, petugas yang mengurusi aku sikapnya lebih ramah. Soalnya, orang-orang lain setelahku ditanya dengan lebih menyelidik. Berulang-ulang pertanyaannya, dan mereka menyelidiki jawabannya.
Untung lagi bagiku, belum selesai ngisi, si petugas yang namanya Lick, kalo gak salah liat, sudah memanggil. Dia salin apa yang aku tulis dalam komputer. Lalu menanyakan sisanya langsung untuk ditulis. Dia juga tanya tinggi dan berat badan. Dan karena aku gak isi tanggal lahir orangtua, dia tanya, kira-kira umurnya berapa? Dan saat aku jawab dengan kira-kira sekian, dia bilang No problem. Saya juga gak tau usia orangtua saya.
Untuk lebih memperlihatkan ketenangan dan memulai pembicaraan, aku tanya "Is there any restroom here?" Eh dia langsung bangkit dan mau mengantarkan aku. Aku bilang, ntar aja setelah ini. "No problem," katanya lagi. No problem ndhasmu!
Selama menunggu itu, ada suami istri berbahasa Indonesia yang juga harus lapor. Dia ke AS menjenguk adiknya. Tapi karena lama dan tujuannya gak jelas, petugas berkali-kali mengulang pertanyaan yang sama dan melebar ke siapa adiknya, tinggal di mana, sejak kapan di As, dll. Repot deh. Ujung-ujungnya mereka disuruh ambil bagasi dan diminta membongkar isinya.
Ada juga pemuda yang entah dari mana, tapi Inggrisnya gak lancar. Dia kayanya susah banget berurusan dengan petugas. Si petugas sampai omong, If you cannot answer my question, I cannot let you in. Halah, wis tekan Amerika je.
Ada juga pemuda yang entah dari mana, tapi Inggrisnya gak lancar. Dia kayanya susah banget berurusan dengan petugas. Si petugas sampai omong, If you cannot answer my question, I cannot let you in. Halah, wis tekan Amerika je.
Ketika aku akhirnya dilepas dengan ucapan "Welcome to United States", makin banyak orang yang masuk dang mengaduk-aduk isi bagasi mereka. Aku melenggang keluar dan diantar ke menuju pintu restroom. Katanya, "Kalau ada petugas tanya lagi, tunjukkan capnya." Fiuuuh.
Bagian pengambilan bagasi sudah sepi. Aku keliling ke sana kemari mencari bagasiku. Ada petugas yang membereskan bagasi yang tidak diambil, dan aku menemukan milikku di situ. Segera kuseret dan kumasukkan lagi ke counter Northwest Airlines. Herannya mereka sama sekali tidak memeriksa itu bagasi siapa. Aku langsung dinminta menaruhnya di ban berjalan.
Lalu memasuki bandara umum, semua barang kembali diperiksa. Sepatu dilepas segala. Pokoknya kalo masih ada yang bunyi, balik lagi.
Lewat dari situ, aku memasuki AS. Meski penerbangan selanjutnya ke Washington masih dua jam lagi, tapi aku buru-buru cari gate-nya. Seorang petugas menunjukkan arahnya ketika aku tanya. Dan sepanjang jalan menuju gate, aku melihat kios-kios di bandara. Banyak yang jual makanan, pakaian, cendera mata, majalah, bahkan motor Harley. Cendera mata yang umum di Minnesota biasanya bergambar Moose atau sejenis rusa besar. Ada juga yang bergambar beaver, beruang, dan srigala. Memang hewan-hewan itu yang ditemukan di sini. Melihat Moose dalam cangkir2 dan kaos-kaos, jadi inget film Brother Bear. Tolol bener wajah hewan itu hehehehe.
Bandara Minneapolis besar dan bersih. Ada trem yang mengangkut penumpang menuju gate. Sambil mencari gate C1 aku banyak ketemu orang Amerika. Ya iyalah... Mereka gendut-gendut banget. Sampai di C1, aku tunjukkan boarding pass-ku. Kata petugasnya, "kamu ke C3. Washington terbang dari sana." Untung gak jauh. Tapi C3 ternyata sepi. Aku sendiri. Udah ketinggalan kali. Saat celingak-celinguk cari penerangan, aku lihat seseorang berjilbab sedang duduk. Nurul. Jadi aku belum ditinggal. Huh. God bless me.
0 komentar:
Poskan Komentar