Pesawat Boeing berbadan lebar yang membawaku ke Narita, Jepang diisi banyak bule dan orang Jepang. Berbeda dengan pesawat milik Emirates yang tampak lebih mewah, pesawat ini tampak biasa, meski tentu saja jauh lebih mulus dibanding pesawat2 domestik di Indonesia. Layar monitornya tidak setajam milik Emirates, dan monitor2 kecil di setiap tempat duduk juga tak terlalu jernih.
Pembeda lain adalah awak dan penumpangnya. Kalau di Emirates jurusan Jakarta-Singapore awaknya kebanyakan keturunan Timur Tengah yang mancung dan langsing atau hitam tinggi mirip Naomi Campbell, di Northwest jurusan Singapore-Tokyo, awaknya kebanyakan berkulit kuning dan sipit. Beberapa adalah orang Jepang, tapi ada juga Chinese. Penampilannya juga tak selangsing dan serapi awak Emirates. Meski begitu, mereka sangat cekatan.
Aku duduk di kelas ekonomi yang barisan kursinya disusun 3-4-3. Di bagian tengah kursi ketiga aku duduk sebaris degan dua teman lain. Pak Santosa berada di kursi lain meski td waktu cek in minta agar dijadikan satu baris. Maka aku menunggu siapa yg akan duduk di sebelahku. Dan masuklah orang itu. Perempuan hitam mirip Whoopi Goldberg, namun sedikit lebih enak dipandang. Rambutnya yang kriting dibiarkan mengembang dan dia tak henti-hentinya omong sendiri mengomentari ini itu.
Aku memejamkan mata karena masih ngantuk. Tapi masih juga omelannya terdengar. Kursinya sempit lah, pesawatnya kurang dingin lah, sambil terus menerus menggeser dan menyikut tanganku yang kuletakkan di lengan kursi dengan tangannya yang besar. Tiba-tiba dia mengagetkanku dengan kata-kata, "You supposed to share this with me!" Rupanya dia ingin aku menggeser lenganku agar dia juga bisa meletakkan tangannya. Karena terkejut, aku jawab: "Oh, Thank you" Bukannya "Sorry" aku malah berterima kasih. Wah ndeso, dasar gagap Inggris.
Setelah insiden dengan Whoopi, beberapa saat sebelum pesawat take off, tiba2 terdengar bunyi ponsel lamat-lamat. Pramugari Jepang yang ada di dekat kami bertanya pada rekannya di seberang, "Do you hear that sound?"
"What sound?" tanyanya.
"Mobile phone I think."
Segera penumpang lain ikut mendengarkan. Termasuk seorang Amerika gendut yang tak henti2nya ngomong. Mirip Jolyon Wagg di komik Tintin.
Sang pramugari mencari sumber suara, dan segera menghampiri Nurul dan bertanya,"Is that your mobile?"
"No," kata Nurul menggeleng.
Tiba-tiba kaya tersambar geledek, aku sadar, suara lamat2 itu berasal dari Blackberry ku. Shit! Sejuta topan badai dan kutu busuk! Rupanya alarm harianku bunyi. Ini jam 5 pagi waktu Indonesia. Dasar babi siaaaal! Padahal Blackberry udah kumatikan. Kok alarm masih bunyi? Maka dengan pura2 masih mencari-cari sumber suara, aku rogoh tas kecilku, lalu aku dismiss alarmnya. Fiufiufiu...
Perjalanan setelah itu cukup melelahkan. Aku sulit tidur karena membayangkan sampai bandara internasional Minneapolis, AS nanti bakal diinterogasi petugas keamanan. Sebelumnya, orang2 di Kedutaan AS sudah mewanti-wanti bahwa 99,9 persen kemungkinannya, aku akan diinterogasi lagi. Itu wajar bagi pria Indonesia yang berkunjung ke AS. Dan bila itu terjadi, kedua temanku diminta jalan dulu, karena interogasi bisa makan waktu 4 jam (seperti pengalaman beberapa pastor Indonesia yang barusan berangkat ke AS, termasuk salah satunya Agustinus Mintoro, temen SMA-ku). Aku diminta bersiap untuk ketinggalan pesawat dan menunggu pesawat terakhir yang baru terbang malam harinya untuk menuju Washington. Berulangkali aku terbangun, karena mimpi diinterogasi dan ketinggalan pesawat. Dalam satu mimpi, orang yang menginterogasi adalah si Whoopi Goldberg di sebelahku. Hiiii...
Beberapa jam terbang melewati langit dekat Taiwan, kami akhirnya sampai ke wilayang Jepang. Bandara Narita berada di Tokyo. Aku udah membayangkan pengen menandai Jepang dengan kehadiranku, seperti singa-singa Serengeti menandai wilayahnya. Selain itu aku juga pengen membersihkan tenggorokan dan hidung yang tidak plong gara-gara masih sedikit flu. Bolak-balik ke toilet pesawat jadi gak nyaman gara-gara harus selalu melewati Whoopi.
Tapi sampai di Narita yang bersih dan kaku (habis gak ada hiasan atau arsitektur yang khusus, semua seperti kotak lurus dengan papan-papan petunjuk, dan ini mungkin karena aku hanya melewati bagian transit, gak liat lainnya), rencana tak berjalan sesuai. Aku hanya sempat "menandai" satu lokasi. Itu pun buru-buru dan karena emang kebelet. Waktu untuk pindah ke pesawat Northwest lain hanya 30 menit. Itu masih harus jalan lumayan jauh, antre, dan diperiksa lagi passport dan bawaan lain.
Si Jolyon Wagg yang membual dengan orang2 sepanjang perjalanan ke Narita mulai menggerutu. "We cannot make it. It is imposibble," katanya. Gundulmu, batinku. Wagg ini emang unik. Dia benar2 omong terus selama perjalanan berjam-jam. Mulai tentang negara-negara yang dia kunjungi, sistem pemerintahannya, sampai ukuran-ukuran metrik pun ia bicarakan. Ia seringkali minta pendapat lawan bicaranya yang ganti-ganti. Tapi beberapa kali dia membantah jawaban itu. "I don't believe it, Menurutku.. bla...bla...bla... Tapi mukanya yang lucu dan dungu tidak membuat lawan bicaranya marah. Dia menjengkelkan tapi sekaligus menghibur dengan gaya sok taunya itu.
Tiba di pemeriksaan, kita diminta menunjukkan passport dan boarding pass. Petugas-petugas Jepang sangat sopan dan ramah meski Inggrisnya sulit dimengerti. Laptop harus dikeluarkan, mereka yang membuat metal detektor bunyi harus mencopot logam-logam di tubuhnya, lalu melewati pintu detektor lagi. Masih bunyi? Cari logam lagi, lewat lagi. ini yang bikin lama. Untung petugas2nya gak galak.
Lewat dari situ, kami masuk pesawat. Kali ini penumpangnya lebih banyak bule. Awaknya pun kebanyakan berambut pirang. Jauh dari standar Emirates, pramugari di NWA menuju Minneapolis lebih berumur dan gendut. Orang AS emang gendut-gendut.
Saat penumpanmg di sekitarku saat ini lebih tenang - karena sebelahku adalah suami istri sepuh dari Filipina - aku mulai merindukan Jolyon Wagg dengan kekonyolan dan gaya bicara bodohnya. Si Filipina hanya sempat bertanya, "Are you Filipino?" ketika kujawab, No, Indonesian, mereka lalu diam sepanjang perjalanan. Yang pria banyak tidur, sedangkan istrinya makan terus. Dia menciduki manisan rambutan yang dia bawa di tas plastik. Ya udahlah. Tidur aja. Dan karena capek, aku lebih bisa tidur kali ini.
Sayonara Narita...
Selasa, 15 Juli 2008
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
1 komentar:
pilippino... mungkin dikira keluarga markos yang setenar pak harto itu :-)
eh mungkin maksudnya 'pilipo inzagi' (aja ge-er).
ditunggu crita2ne dab.
Poskan Komentar