Selasa, 15 Juli 2008

Changi dini hari...

Bangun pukul 02.30 di Changi atau pukul 01.30 waktu Jakarta bukanlah hal yang menyenangkan. Apalagi bila sebelumnya aku hanya sempat terlelap sebentar di sofa. Susah emang kalo udah biasa tidur di kasur, lalu harus tidur tertekuk. Capek, ngantuk, mana sebelum berangkat pake demam dan flu segala.

Kutitipkan ranselku yg berisi passport, laptop, lembaran2 dollar dan barang berharga lain ke Pak Santosa. Lalu aku pinjem handuk ke resepsionis ruang tunggu dan melangkah menuju tempat mandi di Rainforest Lounge.

Tempat mandi itu bagus dan bersih. Dindingnya berwarna krem dihiasi batu-batu alam. Ada banyak bilik shower yang dibagi dalam dua bagian. Bagian pertama adalah area kering, di mana kita meletakkan sepatu dan barang lain. Bagian ini dibatasi pintu kaca dengan tempat mandi. Airnya panas bener. Sulit mencari suhu yang sesuai, karena bila kran diputar sedikit saja ke kiri, airnya langsung dingin, tapi kembali sedikit ke kanan, wow.. hot...hot...hotter than hell. Jadi diperlukan kelemahlembutan untuk memutarnya.

Selesai mandi, aku sempetin makan dua potong roti dan membuat teh panas. Hhmmm maknyus bener rasanya. Melihatku mandi dan berseri-seri, Pak Santosa sepertinya tergugah. Bergantian dengan Pak Santosa aku kini menjagakan barang2nya. Nenden masih tertidur meringkuk di sofa dengan memeluk bantal sofa, sedangkan Nurul merem melek.

Tak lama, Pak Santosa datang, sudah pakai baju baru. Sementara aku masih pakai kaos, celana dalam, dan celana panjang yang sama. Dan ini akan aku pakai sampai di AS. Aku jadi kebayang, sialan, bakal gak ganti baju selama lebih dari 24 jam. Untung aku terlahir wangi, selain juga ganteng seperti yang sudah kita ketahui bersama.

Terinspirasi Pak Santosa dan Nenden (yang akhirnya bangun juga) mengambil popmie, aku ikut-ikutan mencoba. Gak istimewa, seperti pop mie biasa karena emang pop mie dari Indonesia. Tapi kata mereka-mereka, kita harus paksakan makan supaya tidak masuk angin, mengingat lamanya perjalanan. ya udahlah. Makan karena kesadaran aja.

Pukul 03.30, kita jalan ke tempat lapor. Di sana sudah menunggu dua petugas security keturunan India. Mereka minta kita antre. Katanya dalam bahasa Inggris logat India, "Saya akan mengajukan bbrp pertanyaan sesuai prosedur yang disyaratkan bagi penumpang yang akan ke USA." Waks.. dari Singapore mau naik pesawat AS aja udah ditanyain macam2. Antara lain, siapa yang mengepak barang2 Anda? Apakah Anda tau apa saja yang ada di dalam bagasi dan tas Anda? Apa ada titipan yang kalian tidak tau isinya? Apa anda membawa barang2 serupa ini (sambil menunjukkan gambar gunting, pisau, pistol, pemotong kuku, dll), apakah anda membawa cairan? apa tujuan ke AS? berapa lama? tinggal di mana? punya tiket pulang atau tidak? pekerjaan apa? lengkap deh. Yang jelas, saat tau kita dari Indonesia, dia lalu berbahasa Melayu. "Apa tujuan nak ke USA?"

Lepas dari situ baru bisa check in untuk Northwest Airlines. Paspor selalu ditanyakan. Selesai dari sini, kita diminta ke gate pemberangkatan yang malam sebelumnya udah kita cari-cari. Jalannya lumayan jauh, dan untungnya kita udah tau lokasinya. Sampai di sana masih nunggu kurang lebih sejam karena pesawat baru akan take off pukul 06.00. sambil nunggu, kita nyoba2 fasilitas di sana, termasuk mesin pijat kaki yang disediakan. Tentu saja gratis, mana mau kalo bayar!

Sebelum masuk pesawat, kembali barang2 diperiksa. Baru kita diperbolehkan naik. Dan mulailah perjalanan panjang dan melelahkan itu.

Tidak ada komentar: