Mendarat di Indianapolis adalah hal baru. Kota ini berbeda dengan Washington yang relatif lebih inetrnasional dan memiliki lebih banyak museum dan monumen untuk dikunjungi. Indianapolis lebih dikenal karena balapan mobilnya. Dan itulah asal muasal istilah Indy Car.
"I tell you the truth. And this information is for free. There's no free information in America. Everybody has to pay to get the information. But for you, it's free," kata sopir yang mengaku pernah ke Jawa itu (tentu saja dia bohong, termasuk hal-hal lain yg dia katakan).
Selama perjalanan yang penuh bualan si Mogadishu itu, memang terlihat situasi yg beda dengan Washington. Jalanan lebih besar dan terkesan kotanya lebih keras. Memasuki pusat kota Indianapolis, suasana menyeramkan mulai terasa. Orang-orang hitam di mana-mana. Bergerombol dan berjalan di sepanjang trotoir. Sedangkan puluhan polisi berjaga-jaga.
Sedangkan polisi-polisi yang mengawasi berseragam biru, dengan pistol di pinggang. Mobil-mobil polisi diparkir di tiap perempatan. Beberapa berpatroli dengan motor gede, sepeda, dan juga kuda. Selain polisi, mobil sherrif county juga berseliweran. Saat kami datang, bahkan ada helikopter berputar-putar din atas kota sambil menyorotkan lampunya ke jalanan. "Pasti ada yang dicari," kata Shawn.
Para perempuan hitam yang memenuhi kota juga tidak kalah aneh dandanannya. Baik yang langsing maupun yang gendut setengah mati (banyak banget orang oversize di Amerika), semua memakai kaos ketat dan dada tumpah ruah. Kebanyakan pakai celana ketat yang mini banget. Mereka sepertinya tidak peduli kenyamanan, yang penting gaya. Ini terlihat dari sepatu-sepatu hak tinggi yang dipakai.
Dandanan rambut pun macem-macem. Laki dan perempuan banyak yang dikepang kecil-kecil atau dipotong pendek, tapi digaris-garis atau dibentuk pola tertentu. Beberapa memakai topi ala gangster, dan ada juga yang memakai kain penutup kepala putih. yo man...
Di sini kita bener-bener merasa seperti orang asing. Beda dengan Washington yang berisi banyak macam orang yang berbahasa beda-beda (dalam sehari kita bisa dengar sepuluh lebih bahasa yang berbeda), di sini terkesan seperti kota hitam. It's no fun being an illegal alien... kata Phil Collins. Semua orang sepertinya memandangi ingin tahu.
Si Mogadishu bahkan bilang padaku, hei, you look like Jackie Chan my friend... gundulmu batinku..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar