Rabu, 30 Juli 2008

Black Indiana

Mendarat di Indianapolis adalah hal baru. Kota ini berbeda dengan Washington yang relatif lebih inetrnasional dan memiliki lebih banyak museum dan monumen untuk dikunjungi. Indianapolis lebih dikenal karena balapan mobilnya. Dan itulah asal muasal istilah Indy Car.

Kedatangan kami kebetulan bertepatan dengan penyelenggaraan Black Expo, di mana orang-orang hitam berkumpul. Karena acara itu, sopir taksi imigran Somalia yang membawa kami ke hotel menyarankan untuk tidak keluyuran malam hari. "It is very dangerous. The black Americans will get your money, your cellphone, and your wallet," katanya.


"I tell you the truth. And this information is for free. There's no free information in America. Everybody has to pay to get the information. But for you, it's free," kata sopir yang mengaku pernah ke Jawa itu (tentu saja dia bohong, termasuk hal-hal lain yg dia katakan).

Selama perjalanan yang penuh bualan si Mogadishu itu, memang terlihat situasi yg beda dengan Washington. Jalanan lebih besar dan terkesan kotanya lebih keras. Memasuki pusat kota Indianapolis, suasana menyeramkan mulai terasa. Orang-orang hitam di mana-mana. Bergerombol dan berjalan di sepanjang trotoir. Sedangkan puluhan polisi berjaga-jaga.

Selain berjalan, banyak black Americans yang mengendarai mobil-mobil besar dengan musik berdentum-dentum. Persis mirip film2 Hollywood. Banyak yang pake singlet ketat untuk yg badannya keren, namun sebagian besar mengenakan kaos atau baju kedombrongan. Celananya rata-rata juga kegedean sehingga mlorot memperlihatkan boxernya. Jalannya pun menjadi aneh karena satu tangan terpaksa memegang celana terus menerus atau menaikkannya. Kalung-kalung dan anting blink-blink menghiasi tubuh mereka. Hal yang mungkin sedang tren adalah, beberapa dr mereka membiarkan harga, merek, dan lainnya masih tergantung. Mungkin kalo dipakai untuk oleh-oleh masih terlihat baru... hehehehe.

Sedangkan polisi-polisi yang mengawasi berseragam biru, dengan pistol di pinggang. Mobil-mobil polisi diparkir di tiap perempatan. Beberapa berpatroli dengan motor gede, sepeda, dan juga kuda. Selain polisi, mobil sherrif county juga berseliweran. Saat kami datang, bahkan ada helikopter berputar-putar din atas kota sambil menyorotkan lampunya ke jalanan. "Pasti ada yang dicari," kata Shawn.

Para perempuan hitam yang memenuhi kota juga tidak kalah aneh dandanannya. Baik yang langsing maupun yang gendut setengah mati (banyak banget orang oversize di Amerika), semua memakai kaos ketat dan dada tumpah ruah. Kebanyakan pakai celana ketat yang mini banget. Mereka sepertinya tidak peduli kenyamanan, yang penting gaya. Ini terlihat dari sepatu-sepatu hak tinggi yang dipakai.

Dandanan rambut pun macem-macem. Laki dan perempuan banyak yang dikepang kecil-kecil atau dipotong pendek, tapi digaris-garis atau dibentuk pola tertentu. Beberapa memakai topi ala gangster, dan ada juga yang memakai kain penutup kepala putih. yo man...

Di sini kita bener-bener merasa seperti orang asing. Beda dengan Washington yang berisi banyak macam orang yang berbahasa beda-beda (dalam sehari kita bisa dengar sepuluh lebih bahasa yang berbeda), di sini terkesan seperti kota hitam. It's no fun being an illegal alien... kata Phil Collins. Semua orang sepertinya memandangi ingin tahu.


Si Mogadishu bahkan bilang padaku, hei, you look like Jackie Chan my friend... gundulmu batinku..

Tidak ada komentar: