Rabu, 30 Juli 2008

Sengsara di bandara


Tidak semua prosedur keamanan di bandara Amerika merepotkan. Tapi bagi kebanyakan orang asing, apalagi dari Indonesia, umumnya mereka akan mengalami kerepotan itu. Pertama pada waktu memasuki AS. Berbagai pertanyaan, pemeriksaan, hingga mengaduk-aduk isi koper sudah lazim terjadi. Setelah memasuki AS, hal seperti itu tidak otomatis berhenti, meski kita melakukan perjalanan di dalam negeri.

Setelah pengalaman "diinterogasi" di bandara St Paul Minneapolis, saya sempat tertahan sedikit lama saat terbang dari Washington ke Indianapolis. Entah apa keistimewaan yang saya miliki, yang jelas saya terpilih untuk diperiksa secara lebih teliti meski ketika melewati metal detektor tak ada bunyi yang terdengar. Para petugas tetap menyuruh saya memasuki ruang kaca berbentuk lingkaran. Di dalamnya saya diminta meregangkan tangan dan kaki, lalu ada bagian dari kaca itu berputar seperti men-scan tubuh saya. Kata orang-orang, di monitor mereka, tubuh saya itu akan terlihat seperti tak berbaju. Walaaah.

Setelah tak ditemukan apapun, seorang petugas mempersilakan saya keluar, lalu menanyakan beberapa hal mengenai keperluan saya melakukan perjalanan. Dan mereka percaya dengan jawaban saya. Mungkin karena tidak ditemukan apapun yang mencurigakan dalam tas saya yang sudah di-scan terlebih dahulu. Apalagi saat itu saya berjalan dengan teman Amerika, Shawn yang baik budi.

Umumnya pemeriksaan hanya dilakukan saat kita akan terbang. Setelah mendarat di kota tujuan, tak ada lagi pemeriksaan. Kecuali bila kita dari luar negeri dan akan masuk AS.
Pada penerbangan selanjutnya dari Indianapolis ke Orlando, Florida, peristiwanya sungguh mengejutkan saya. Biasanya dalam rombongan kami yang berempat, Shawn, Nurul, Nenden, dan aku, selalu aku yang kena pemeriksaan. Tapi di bandara Indianapolis, aku lolos dengan cepat. Hanya dilihat passport-nya, boarding pas, scan tas, dan "you are clean, have a nice flight..."

Aku nyaris gak percaya melewati pemeriksaan itu. Tidak diminta masuk ruang khusus, tidak ditanya apapun. Sementara Nurul diminta menyalakan laptop, bahkan Shawn tertahan di belakangku karena dia bawa yoghurt. Btw, di AS, kita dilarang membawa cairan di dalam tas kita untuk memasuki pesawat. Saya sempet dengar dia bertanya apakah boleh meminumnya saat itu, tapi sang petugas menggeleng dan "mengamankan" yoghurt itu.

Sebagai catatan, sebagai orang yang paling dicurigai, aku memang tidak pernah membawa cairan atau logam saat pemeriksaan. Aku menghindari dihentikan dan diperiksa berpanjang-panjang karena hal tersebut. Aku juga selalu sigap melepas sepatu, mengeluarkan laptop, mencopot jaket kulit, dan memasukkan ke keranjang-keranjang yang ada. Selain itu, aku agak heran karena belum pernah sekalipun, sampai minggu kedua ini, aku diminta menyalakan laptopku. Padahal sebelum berangkat aku terpaksa membersihkan laptop dari barang-barang bajakan. Huh!

Namun keberuntunganku di Indianapolis tidak lagi mengikuti saat aku meninggalkan Orlando menuju Minot, North Dakota, melalui Minneapolis. Bandara Orlando yang besar dan indah memang lebih cermat mengawasi orang. Pasalnya banyak imigran gelap datang lewat Florida. Di kota ini konon banyak orang latin dan juga Cuba. Petugas keamanan bahkan melarang penumpang meninggalkan barang-barangnya. Koper atau tas tak bertuan akan dicurigai berisi peledak mungkin.

Pagi ini, Minggu 27 Juli 2008, setelah berangkat dari hotel Embassy Suites dan mengembalikan mobil keren Chrysler 300 di bandara, kita mulai antre untuk check in. Barang yang makin banyak membuat semua membawa dua kopor besar yang akan masuk bagasi, dan bawaan lain yang dibawa ke kabin. Setelah itu, kita masuk ke pemeriksaan yang berupa loket-loket dengan alat scanner dan ruang-ruang kaca di baliknya.

Shawn berada di depan, lalu aku, disusul Nurul dan Nenden. Shawn dengan segera lolos dari pemeriksaan. Sedangkan aku, setelah melewati metal detektor yang tak berbunyi, diminta untuk masuk ke ruang kaca. Holy shit! Dasar babi siaaaaaal...

Di sana aku dijelaskan bahwa aku akan diperiksa menggunakan alat. Petugasnya kurang lebih bilang, bahwa dia akan memeriksa dan menggunakan alat elektronik. Aku diminta tidak panik. Lalu aku diminta duduk di salah satu dari duan kursi yang ada. Di situ aku diminta mengangkat kaki kiri dan kanan, lalu alat serupa tongkat diarahkan menelusuri kaki. Gak ada yang bunyi. Aman. Lalu aku diminta berdiri di karpet yang ada gambar kakinya. Aku diminta meletakkan telapak kaki di sana (ini gak pake sepatu lho, wong kalo masuk pemeriksaan semua orang harus lepas alas kaki, mana kaos kakiku bau lagi... hah). Di sana aku diminta merentangkan tangan, lalu kembali alat itu digerakkan menelusuri badan, tangan dan kaki. Gak ada bunyi.

Lalu petugas bilang bahwa ia akan memeriksa badanku. Mulai dari kaki, tangan, perut, punggung, semua ditepuk-tepuk. Takut ada bom nempel kali. Bersih. Dan aku diminta keluar dari ruang kaca itu. Kirain semua udah selesai. Eh, dia bilang, silakan ikuti petugas ini. Setaaaaan. Apa lagi nih?

Petugas berkulit cokelat kehitaman mirip orang Latin itu lalu memintaku menunjukkan semua barangku. Dia ambil semua, lalu dibawa ke sebuah meja. Aku diminta berada di depan meja sementara dia membuka semua tas dan memeriksa jaket. Pertama dia menanyai apa keperluanku bepergian. Urusannya apa, lalu siapa aku. Dia juga menanyakan berapa lama akan ada di AS dan ke mana aja, sambil memeriksa kartu-kartu yangb ada di dompet. KTP, SIM, dll dia cocokkan fotonya. Nah, untung di dalam dompet dia menemukan kartu dari Deplu AS yang menerangkan bahwa pembawa kartu adalah tamu pemerintah AS dan agar dibantu.

Dia berkernyit membaca kartu itu lalu tersenyum dan berkata, "Yeah, I read your card." Lalu dia bertanya dengan ramah, ke mana aja aku selama di Orlando. Aku bilang, aku mengunjungi koran setempat dan stasiun TV. Lalu dia tanya, "Kamu gak ke Disney?" Aku bilang, udah kemaren. Aku juga ke Universal Studio. Lalu dia bilang, kalau kamu ke Orlando, kamu harus ke Disney. Dia lalu cerita bahwa rumahnya dekat Universal. Sambil terus memeriksa isi tasku nih... bukan diem aja. Lalu aku tanya, berarti kamu bisa masuk gratis dong?

Iya katanya. Aku hampir selalu ke sana di akhir pekan.


Dia periksa surat dari Deplu sekali lagi, lalu mengembalikan dompet dan seluruh isinya padaku. Juga jaket dan sepatu. Tas punggungku nyaris gak diperiksa. Dia cuma tanya, kamu gak bawa benda-benda tajam, senjata, atau barang berbahaya yang dilarang kan? Aku bilang gak ada. Lalu dia bilang, silakan masukkan laptopmu kembali.

Aku tanya, "so, it's done?"

"Yeah, you good," sambil menepuk punggungku.

"Thanks," jawabku.

Nah, setelah aku pake sepatu dan jaket, dan akan mencari yang lain, ternyata Shawn juga diperiksa disampingku. Begitu juga dua teman perempuan dari Indonesia. Lah, bukannya Shawn udah lolos? Aku tanya ke dia, semua dalam rombongan diperiksa karena aku diperiksa. Jadi, tadi dia diminta balik lagi, karena ketahuan pergi satu rombongan dengan aku. Walaaaaah... mesakne tenan londo siji iki. Hahahahaha.

Tapi petugas berulang kali minta maaf atas ketidaknyamanan ini setelah mereka selesai memeriksa. Aku juga minta maaf pada Shawn serta yang lain karena mereka ikut diperiksa gara-gara jalan ama aku. Kata Shawn, "Harusnya Presiden Bush yang minta maaf pada kamu, bukan kamu yang minta maaf."


Baiklah teman, aku akan menuntut permintaan maaf dari Pak Bush. hehehehe.

Black Indiana

Mendarat di Indianapolis adalah hal baru. Kota ini berbeda dengan Washington yang relatif lebih inetrnasional dan memiliki lebih banyak museum dan monumen untuk dikunjungi. Indianapolis lebih dikenal karena balapan mobilnya. Dan itulah asal muasal istilah Indy Car.

Kedatangan kami kebetulan bertepatan dengan penyelenggaraan Black Expo, di mana orang-orang hitam berkumpul. Karena acara itu, sopir taksi imigran Somalia yang membawa kami ke hotel menyarankan untuk tidak keluyuran malam hari. "It is very dangerous. The black Americans will get your money, your cellphone, and your wallet," katanya.


"I tell you the truth. And this information is for free. There's no free information in America. Everybody has to pay to get the information. But for you, it's free," kata sopir yang mengaku pernah ke Jawa itu (tentu saja dia bohong, termasuk hal-hal lain yg dia katakan).

Selama perjalanan yang penuh bualan si Mogadishu itu, memang terlihat situasi yg beda dengan Washington. Jalanan lebih besar dan terkesan kotanya lebih keras. Memasuki pusat kota Indianapolis, suasana menyeramkan mulai terasa. Orang-orang hitam di mana-mana. Bergerombol dan berjalan di sepanjang trotoir. Sedangkan puluhan polisi berjaga-jaga.

Selain berjalan, banyak black Americans yang mengendarai mobil-mobil besar dengan musik berdentum-dentum. Persis mirip film2 Hollywood. Banyak yang pake singlet ketat untuk yg badannya keren, namun sebagian besar mengenakan kaos atau baju kedombrongan. Celananya rata-rata juga kegedean sehingga mlorot memperlihatkan boxernya. Jalannya pun menjadi aneh karena satu tangan terpaksa memegang celana terus menerus atau menaikkannya. Kalung-kalung dan anting blink-blink menghiasi tubuh mereka. Hal yang mungkin sedang tren adalah, beberapa dr mereka membiarkan harga, merek, dan lainnya masih tergantung. Mungkin kalo dipakai untuk oleh-oleh masih terlihat baru... hehehehe.

Sedangkan polisi-polisi yang mengawasi berseragam biru, dengan pistol di pinggang. Mobil-mobil polisi diparkir di tiap perempatan. Beberapa berpatroli dengan motor gede, sepeda, dan juga kuda. Selain polisi, mobil sherrif county juga berseliweran. Saat kami datang, bahkan ada helikopter berputar-putar din atas kota sambil menyorotkan lampunya ke jalanan. "Pasti ada yang dicari," kata Shawn.

Para perempuan hitam yang memenuhi kota juga tidak kalah aneh dandanannya. Baik yang langsing maupun yang gendut setengah mati (banyak banget orang oversize di Amerika), semua memakai kaos ketat dan dada tumpah ruah. Kebanyakan pakai celana ketat yang mini banget. Mereka sepertinya tidak peduli kenyamanan, yang penting gaya. Ini terlihat dari sepatu-sepatu hak tinggi yang dipakai.

Dandanan rambut pun macem-macem. Laki dan perempuan banyak yang dikepang kecil-kecil atau dipotong pendek, tapi digaris-garis atau dibentuk pola tertentu. Beberapa memakai topi ala gangster, dan ada juga yang memakai kain penutup kepala putih. yo man...

Di sini kita bener-bener merasa seperti orang asing. Beda dengan Washington yang berisi banyak macam orang yang berbahasa beda-beda (dalam sehari kita bisa dengar sepuluh lebih bahasa yang berbeda), di sini terkesan seperti kota hitam. It's no fun being an illegal alien... kata Phil Collins. Semua orang sepertinya memandangi ingin tahu.


Si Mogadishu bahkan bilang padaku, hei, you look like Jackie Chan my friend... gundulmu batinku..

Jumat, 18 Juli 2008

Londo Jowo di Washington



Memasuki pesawat yang lebih kecil untuk terbang ke Washington, aku merasa lebih tenang. Ini penerbangan domestik. Langit cerah saat pesawat hendak lepas landas. Ini Sabtu sore sekitar pukul 15 di Minnesota. Saat pramugari seperti biasa menerangkan aturan keselamatan penerbangan, Nurul bertanya, "HPmu bunyi po mas?" How come? kan udah aku matiin. Tapi nyatanya bunyi tuh. Alarm lagi. Berarti jam 5 pagi waktu Indonesia hari Minggu. Kali ini aku sigap mematikan sebelum semua orang denger. Dan aku sadar, udah 24 jam sejak aku take off dari Singapura. Jauhhhh bener.

Pendaratan di bandara Ronald Reagan Washington berjalan mulus. Dan kayanya semua pendaratan di sini mulus deh. Pesawat segera berhenti begitu mendarat, gak pake berlama-lama meluncur di landasan. Dan bandaranya sangat sibuk. Begitu ada yang mendarat, di belakang langsung ada yang take off. Bahkan saat pesawat masih di runway, sudah ada pesawat lain yang bersiap mendarat. Kalau gak cermat ngitungnya bisa bahaya tuh. Bayangin kalo rodanya macet seperti waktu aku naik Garuda ke Jogja, apa mungkin pesawat yang sudah siap landing itu take off lagi?

Kami mendarat 7 menit lebih awal. Di kita mah adanya telat sejam dua jam. Dengan cepat, kami menuju ke tempat pengambilan bagasi. Bandara Reagan emang gak terlalu besar dan hanya untuk penerbangan domestik sehingga lebih simpel urusannya.

Saat menanti bagasi, ada lelaki muda berewokan mendekati (setelah berewoknya dicukur kemudian, dia mirip perpaduan antara Josh Harnett dengan Christopher Reeve, bener). Tania dan juga Eko pasti suka. Dia memperkenalkan diri dengan bahasa Indonesia sebagai Shawn Easton Callanan. Dialah pendamping kami.

"Dari mana belajar bahasa Indonesia?" tanyaku.

"O, saya pernah tinggal di Indonesia," katanya.

"Di mana?"

"Jogjakarta." Hah, jebul wis tau neng Jogja.

"Ngapain di sana?" tanyaku.

"O saya belajar karawitan di Institut Seni Indonesia." Waks!!

"Bisa omong Jawa?" tanyaku lagi.

"Sekedhik kemawon," jawabnya.

Hahahahahaah... terkejut bener aku. Holy shit! Jape methe dab!

Welcome to USA


Dalam penerbangan Tokyo-Minneapolis, dua kali saja aku bangun. Dan keduanya karena diberi makan. Sepertinya aku tidur pulas karena itu memang waktu tidur di Indonesia, alias tengah malam hingga dini hari, meski dari jendela pesawat, matahari bersinar terang. Tak semua makanan kuhabiskan. Tumben, biasanya kalo gratis, aku jadi lupa diet. Gak nafsu aja rasanya. Lagian makanannya juga kurang menarik. Kayanya telur kopyok dicampur macem2 dan ada juga sandwich yang isinya tuna dingin. Yang jelas saat kupingku jadi budeg karena perbedaan tekanan, dan pesawat mulai mengurangi ketinggian, aku jadi terjaga penuh. Here I come America...

Dari jendela pesawat tampak tanah-tanah hijau yang terkotak-kotak rapi. Gile londo Amerika ini, sempet2nya ngotakin tanah. Di beberapa lokasi mulai terlihat danau-danau kecil dan juga aliran sungai. Kami memang terbang di atas Minnesota, country with thousands lake. Tak heran bila di sana danau di sini danau. Dari atas sebenernya lebih mirip kubangan sih...

Saat pesawat mendarat di Lindbergh, Minneapolis, aku teringat lagi masalah interogasi. Bakal nunggu sampe malam nih, pikirku. Lorong-lorong yang kulalui sebelum sampai gerbang bea cukai rasanya tidak bersahabat. Di mana-mana petugas keamanan. Toilet pun tak ada, padahal sedikit terkencing-kencing. Lorong kemudian berakhir pada sebuah tempat mirip aula yang dikelilingi kaca. Di hadapan kami ada loket-loket yang mirip kasir di carrefour. Penumpang yang masuk ke situ dibagi menjadi dua kelompok. Warga AS, membentuk barisan-barisan antrean di kiri, pendatang di kanan.

Saat antre, aku lihat Pak Santosa sedang berada di depan petugas. Passport-nya diperiksa, Ia ditanya-tanya. Pasti setelah ini disuruh ikut petugas lain, batinku. Eh.. taunya dia lewat. Celingukan dia mencari bagasinya, karena setelah lewat border ini, orang bisa ambil bagasi.
Di depanku masih ada dua orang yang antre. Semua lolos, dan sepertinya lancar. Aku belum liat satu orang pun digelandang ke sisi kanan, yang bertuliskan passport check. Tiba giliranku, aku berusaha tenang dan ramah. "Mornin' Sir...," kataku. Padahal dalam hati deg..deg..sir. Dia melihatku, menanyakan passport, lalu mengerutkan dahinya. Matanya memandang tajam ke passport, lalu ke wajahku, lalu ke passport lagi.

"What are you doin in United States?" tanya dia.

"US Department of State invite me to join international visitor program," jawabku. Gak ngerti Inggrisnya bener apa nggak.

"How long you will stay?"

"Three weeks," jawabku.

"And where you gonna stay?"

Terbata-bata aku sebut alamat Departemen Luar Negeri AS dan tunjukkan alamat itu. Si petugas yang tegap dan pirang itu diam. Memang seusai bertanya, dia selalu mencocokkan dengan data yang kubawa, baik itu visa maupun kartu J1.

"Say it again, what is your purpose in United States?" tanyanya. Woooo... dasar londo goblog. Aku jawab lagi, "international visitor program. US Dept of State invite me."

Dia liatin aku lagi. Kayanya orang-orang lain udah pada lewat di loket-loket lain, kok aku masih ditahan. Dasar monyet siaaaaaaal...


Petugas berpakaian biru tua dengan badge2 perak itu rupanya melihat aku gelisah. Dan itu membuat dia memutuskan bahwa aku harus diperiksa lebih lanjut. Dasar londo ndeso. Gak tau weruh ndoro...
"We will have another procedur. You have to answer some question, fill the form. An officer will show you the way," ujarnya sambil mencari petugas lain.


Orang-orang yang antre di belakangku sepertinya tau ada masalah. Aku sendiri sudah menetapkan sebelum berangkat, bahwa kondisi defaultnya aku akan diperiksa. Itu membuatku agak pasrah. Lalu petugas yang dimaksud datang. "Follow this gentlemen," kata si pirang.
Dari belakang petugas itu, aku liat sabuknya digantungi borgol, pentungan, alat komunikasi, dan pistol. (Setelah aku amati kemudian, semua petugas keamanan dan perbatasan ternyata bawa pistol. Tapi gak tau juga ya kalo ternyata itu pistol air. Males nyoba).

Aku masuk ke ruang pemeriksaan khusus. Tempatnya seperti tempat nunggu penerbangan. Pengen aku foto sih. Tapi bisa jadi nambah masalah...hehehehe.. Di sana para petugas berada di balik meja panjang. Sedangkan yang diperiksa, disediakan kursi-kursi berjajar. Rapi, bersih, tapi masih kaku. Tidak ada penumpang lain selain aku. Ini menguntungkan karena aku tidak perlu antre. Soalnya, dari cerita yang beredar, satu pemeriksaan bisa berlangsung setengah jam lebih, sementara jumlah petugas dan yang diperiksa tidak sebanding. Mereka memang memberi nomor urut sih, cuma karena aku sendiri, seorang petugas langsung memanggil. Pertanyaannya sama, urusan ke AS apa, berapa lama, tinggal di mana, kontaknya siapa. Petugas itu lalu menyodorkan formulir untuk diisi. Pertanyaannya, sekolah di mana, kerja di mana, siapa bapakku, ibuku, tanggal lahirnya, alamat di Indonesia, nomor yang bs dihubungi, dll.

Saat aku mengisi itu, beberapa orang lain masuk. I'm not the only one. Untung aku udah duluan. Dan karena aku menyerahkan undangan dari Departemen LN yang isinya menerangkan bahwa aku tamu negara, petugas yang mengurusi aku sikapnya lebih ramah. Soalnya, orang-orang lain setelahku ditanya dengan lebih menyelidik. Berulang-ulang pertanyaannya, dan mereka menyelidiki jawabannya.

Untung lagi bagiku, belum selesai ngisi, si petugas yang namanya Lick, kalo gak salah liat, sudah memanggil. Dia salin apa yang aku tulis dalam komputer. Lalu menanyakan sisanya langsung untuk ditulis. Dia juga tanya tinggi dan berat badan. Dan karena aku gak isi tanggal lahir orangtua, dia tanya, kira-kira umurnya berapa? Dan saat aku jawab dengan kira-kira sekian, dia bilang No problem. Saya juga gak tau usia orangtua saya.

Untuk lebih memperlihatkan ketenangan dan memulai pembicaraan, aku tanya "Is there any restroom here?" Eh dia langsung bangkit dan mau mengantarkan aku. Aku bilang, ntar aja setelah ini. "No problem," katanya lagi. No problem ndhasmu!

Selama menunggu itu, ada suami istri berbahasa Indonesia yang juga harus lapor. Dia ke AS menjenguk adiknya. Tapi karena lama dan tujuannya gak jelas, petugas berkali-kali mengulang pertanyaan yang sama dan melebar ke siapa adiknya, tinggal di mana, sejak kapan di As, dll. Repot deh. Ujung-ujungnya mereka disuruh ambil bagasi dan diminta membongkar isinya.
Ada juga pemuda yang entah dari mana, tapi Inggrisnya gak lancar. Dia kayanya susah banget berurusan dengan petugas. Si petugas sampai omong, If you cannot answer my question, I cannot let you in. Halah, wis tekan Amerika je.

Ketika aku akhirnya dilepas dengan ucapan "Welcome to United States", makin banyak orang yang masuk dang mengaduk-aduk isi bagasi mereka. Aku melenggang keluar dan diantar ke menuju pintu restroom. Katanya, "Kalau ada petugas tanya lagi, tunjukkan capnya." Fiuuuh.


Bagian pengambilan bagasi sudah sepi. Aku keliling ke sana kemari mencari bagasiku. Ada petugas yang membereskan bagasi yang tidak diambil, dan aku menemukan milikku di situ. Segera kuseret dan kumasukkan lagi ke counter Northwest Airlines. Herannya mereka sama sekali tidak memeriksa itu bagasi siapa. Aku langsung dinminta menaruhnya di ban berjalan.
Lalu memasuki bandara umum, semua barang kembali diperiksa. Sepatu dilepas segala. Pokoknya kalo masih ada yang bunyi, balik lagi.


Lewat dari situ, aku memasuki AS. Meski penerbangan selanjutnya ke Washington masih dua jam lagi, tapi aku buru-buru cari gate-nya. Seorang petugas menunjukkan arahnya ketika aku tanya. Dan sepanjang jalan menuju gate, aku melihat kios-kios di bandara. Banyak yang jual makanan, pakaian, cendera mata, majalah, bahkan motor Harley. Cendera mata yang umum di Minnesota biasanya bergambar Moose atau sejenis rusa besar. Ada juga yang bergambar beaver, beruang, dan srigala. Memang hewan-hewan itu yang ditemukan di sini. Melihat Moose dalam cangkir2 dan kaos-kaos, jadi inget film Brother Bear. Tolol bener wajah hewan itu hehehehe.

Bandara Minneapolis besar dan bersih. Ada trem yang mengangkut penumpang menuju gate. Sambil mencari gate C1 aku banyak ketemu orang Amerika. Ya iyalah... Mereka gendut-gendut banget. Sampai di C1, aku tunjukkan boarding pass-ku. Kata petugasnya, "kamu ke C3. Washington terbang dari sana." Untung gak jauh. Tapi C3 ternyata sepi. Aku sendiri. Udah ketinggalan kali. Saat celingak-celinguk cari penerangan, aku lihat seseorang berjilbab sedang duduk. Nurul. Jadi aku belum ditinggal. Huh. God bless me.

Selasa, 15 Juli 2008

Menandai Jepang

Pesawat Boeing berbadan lebar yang membawaku ke Narita, Jepang diisi banyak bule dan orang Jepang. Berbeda dengan pesawat milik Emirates yang tampak lebih mewah, pesawat ini tampak biasa, meski tentu saja jauh lebih mulus dibanding pesawat2 domestik di Indonesia. Layar monitornya tidak setajam milik Emirates, dan monitor2 kecil di setiap tempat duduk juga tak terlalu jernih.

Pembeda lain adalah awak dan penumpangnya. Kalau di Emirates jurusan Jakarta-Singapore awaknya kebanyakan keturunan Timur Tengah yang mancung dan langsing atau hitam tinggi mirip Naomi Campbell, di Northwest jurusan Singapore-Tokyo, awaknya kebanyakan berkulit kuning dan sipit. Beberapa adalah orang Jepang, tapi ada juga Chinese. Penampilannya juga tak selangsing dan serapi awak Emirates. Meski begitu, mereka sangat cekatan.

Aku duduk di kelas ekonomi yang barisan kursinya disusun 3-4-3. Di bagian tengah kursi ketiga aku duduk sebaris degan dua teman lain. Pak Santosa berada di kursi lain meski td waktu cek in minta agar dijadikan satu baris. Maka aku menunggu siapa yg akan duduk di sebelahku. Dan masuklah orang itu. Perempuan hitam mirip Whoopi Goldberg, namun sedikit lebih enak dipandang. Rambutnya yang kriting dibiarkan mengembang dan dia tak henti-hentinya omong sendiri mengomentari ini itu.

Aku memejamkan mata karena masih ngantuk. Tapi masih juga omelannya terdengar. Kursinya sempit lah, pesawatnya kurang dingin lah, sambil terus menerus menggeser dan menyikut tanganku yang kuletakkan di lengan kursi dengan tangannya yang besar. Tiba-tiba dia mengagetkanku dengan kata-kata, "You supposed to share this with me!" Rupanya dia ingin aku menggeser lenganku agar dia juga bisa meletakkan tangannya. Karena terkejut, aku jawab: "Oh, Thank you" Bukannya "Sorry" aku malah berterima kasih. Wah ndeso, dasar gagap Inggris.

Setelah insiden dengan Whoopi, beberapa saat sebelum pesawat take off, tiba2 terdengar bunyi ponsel lamat-lamat. Pramugari Jepang yang ada di dekat kami bertanya pada rekannya di seberang, "Do you hear that sound?"
"What sound?" tanyanya.
"Mobile phone I think."
Segera penumpang lain ikut mendengarkan. Termasuk seorang Amerika gendut yang tak henti2nya ngomong. Mirip Jolyon Wagg di komik Tintin.
Sang pramugari mencari sumber suara, dan segera menghampiri Nurul dan bertanya,"Is that your mobile?"
"No," kata Nurul menggeleng.

Tiba-tiba kaya tersambar geledek, aku sadar, suara lamat2 itu berasal dari Blackberry ku. Shit! Sejuta topan badai dan kutu busuk! Rupanya alarm harianku bunyi. Ini jam 5 pagi waktu Indonesia. Dasar babi siaaaal! Padahal Blackberry udah kumatikan. Kok alarm masih bunyi? Maka dengan pura2 masih mencari-cari sumber suara, aku rogoh tas kecilku, lalu aku dismiss alarmnya. Fiufiufiu...

Perjalanan setelah itu cukup melelahkan. Aku sulit tidur karena membayangkan sampai bandara internasional Minneapolis, AS nanti bakal diinterogasi petugas keamanan. Sebelumnya, orang2 di Kedutaan AS sudah mewanti-wanti bahwa 99,9 persen kemungkinannya, aku akan diinterogasi lagi. Itu wajar bagi pria Indonesia yang berkunjung ke AS. Dan bila itu terjadi, kedua temanku diminta jalan dulu, karena interogasi bisa makan waktu 4 jam (seperti pengalaman beberapa pastor Indonesia yang barusan berangkat ke AS, termasuk salah satunya Agustinus Mintoro, temen SMA-ku). Aku diminta bersiap untuk ketinggalan pesawat dan menunggu pesawat terakhir yang baru terbang malam harinya untuk menuju Washington. Berulangkali aku terbangun, karena mimpi diinterogasi dan ketinggalan pesawat. Dalam satu mimpi, orang yang menginterogasi adalah si Whoopi Goldberg di sebelahku. Hiiii...

Beberapa jam terbang melewati langit dekat Taiwan, kami akhirnya sampai ke wilayang Jepang. Bandara Narita berada di Tokyo. Aku udah membayangkan pengen menandai Jepang dengan kehadiranku, seperti singa-singa Serengeti menandai wilayahnya. Selain itu aku juga pengen membersihkan tenggorokan dan hidung yang tidak plong gara-gara masih sedikit flu. Bolak-balik ke toilet pesawat jadi gak nyaman gara-gara harus selalu melewati Whoopi.

Tapi sampai di Narita yang bersih dan kaku (habis gak ada hiasan atau arsitektur yang khusus, semua seperti kotak lurus dengan papan-papan petunjuk, dan ini mungkin karena aku hanya melewati bagian transit, gak liat lainnya), rencana tak berjalan sesuai. Aku hanya sempat "menandai" satu lokasi. Itu pun buru-buru dan karena emang kebelet. Waktu untuk pindah ke pesawat Northwest lain hanya 30 menit. Itu masih harus jalan lumayan jauh, antre, dan diperiksa lagi passport dan bawaan lain.

Si Jolyon Wagg yang membual dengan orang2 sepanjang perjalanan ke Narita mulai menggerutu. "We cannot make it. It is imposibble," katanya. Gundulmu, batinku. Wagg ini emang unik. Dia benar2 omong terus selama perjalanan berjam-jam. Mulai tentang negara-negara yang dia kunjungi, sistem pemerintahannya, sampai ukuran-ukuran metrik pun ia bicarakan. Ia seringkali minta pendapat lawan bicaranya yang ganti-ganti. Tapi beberapa kali dia membantah jawaban itu. "I don't believe it, Menurutku.. bla...bla...bla... Tapi mukanya yang lucu dan dungu tidak membuat lawan bicaranya marah. Dia menjengkelkan tapi sekaligus menghibur dengan gaya sok taunya itu.

Tiba di pemeriksaan, kita diminta menunjukkan passport dan boarding pass. Petugas-petugas Jepang sangat sopan dan ramah meski Inggrisnya sulit dimengerti. Laptop harus dikeluarkan, mereka yang membuat metal detektor bunyi harus mencopot logam-logam di tubuhnya, lalu melewati pintu detektor lagi. Masih bunyi? Cari logam lagi, lewat lagi. ini yang bikin lama. Untung petugas2nya gak galak.

Lewat dari situ, kami masuk pesawat. Kali ini penumpangnya lebih banyak bule. Awaknya pun kebanyakan berambut pirang. Jauh dari standar Emirates, pramugari di NWA menuju Minneapolis lebih berumur dan gendut. Orang AS emang gendut-gendut.
Saat penumpanmg di sekitarku saat ini lebih tenang - karena sebelahku adalah suami istri sepuh dari Filipina - aku mulai merindukan Jolyon Wagg dengan kekonyolan dan gaya bicara bodohnya. Si Filipina hanya sempat bertanya, "Are you Filipino?" ketika kujawab, No, Indonesian, mereka lalu diam sepanjang perjalanan. Yang pria banyak tidur, sedangkan istrinya makan terus. Dia menciduki manisan rambutan yang dia bawa di tas plastik. Ya udahlah. Tidur aja. Dan karena capek, aku lebih bisa tidur kali ini.

Sayonara Narita...

Changi dini hari...

Bangun pukul 02.30 di Changi atau pukul 01.30 waktu Jakarta bukanlah hal yang menyenangkan. Apalagi bila sebelumnya aku hanya sempat terlelap sebentar di sofa. Susah emang kalo udah biasa tidur di kasur, lalu harus tidur tertekuk. Capek, ngantuk, mana sebelum berangkat pake demam dan flu segala.

Kutitipkan ranselku yg berisi passport, laptop, lembaran2 dollar dan barang berharga lain ke Pak Santosa. Lalu aku pinjem handuk ke resepsionis ruang tunggu dan melangkah menuju tempat mandi di Rainforest Lounge.

Tempat mandi itu bagus dan bersih. Dindingnya berwarna krem dihiasi batu-batu alam. Ada banyak bilik shower yang dibagi dalam dua bagian. Bagian pertama adalah area kering, di mana kita meletakkan sepatu dan barang lain. Bagian ini dibatasi pintu kaca dengan tempat mandi. Airnya panas bener. Sulit mencari suhu yang sesuai, karena bila kran diputar sedikit saja ke kiri, airnya langsung dingin, tapi kembali sedikit ke kanan, wow.. hot...hot...hotter than hell. Jadi diperlukan kelemahlembutan untuk memutarnya.

Selesai mandi, aku sempetin makan dua potong roti dan membuat teh panas. Hhmmm maknyus bener rasanya. Melihatku mandi dan berseri-seri, Pak Santosa sepertinya tergugah. Bergantian dengan Pak Santosa aku kini menjagakan barang2nya. Nenden masih tertidur meringkuk di sofa dengan memeluk bantal sofa, sedangkan Nurul merem melek.

Tak lama, Pak Santosa datang, sudah pakai baju baru. Sementara aku masih pakai kaos, celana dalam, dan celana panjang yang sama. Dan ini akan aku pakai sampai di AS. Aku jadi kebayang, sialan, bakal gak ganti baju selama lebih dari 24 jam. Untung aku terlahir wangi, selain juga ganteng seperti yang sudah kita ketahui bersama.

Terinspirasi Pak Santosa dan Nenden (yang akhirnya bangun juga) mengambil popmie, aku ikut-ikutan mencoba. Gak istimewa, seperti pop mie biasa karena emang pop mie dari Indonesia. Tapi kata mereka-mereka, kita harus paksakan makan supaya tidak masuk angin, mengingat lamanya perjalanan. ya udahlah. Makan karena kesadaran aja.

Pukul 03.30, kita jalan ke tempat lapor. Di sana sudah menunggu dua petugas security keturunan India. Mereka minta kita antre. Katanya dalam bahasa Inggris logat India, "Saya akan mengajukan bbrp pertanyaan sesuai prosedur yang disyaratkan bagi penumpang yang akan ke USA." Waks.. dari Singapore mau naik pesawat AS aja udah ditanyain macam2. Antara lain, siapa yang mengepak barang2 Anda? Apakah Anda tau apa saja yang ada di dalam bagasi dan tas Anda? Apa ada titipan yang kalian tidak tau isinya? Apa anda membawa barang2 serupa ini (sambil menunjukkan gambar gunting, pisau, pistol, pemotong kuku, dll), apakah anda membawa cairan? apa tujuan ke AS? berapa lama? tinggal di mana? punya tiket pulang atau tidak? pekerjaan apa? lengkap deh. Yang jelas, saat tau kita dari Indonesia, dia lalu berbahasa Melayu. "Apa tujuan nak ke USA?"

Lepas dari situ baru bisa check in untuk Northwest Airlines. Paspor selalu ditanyakan. Selesai dari sini, kita diminta ke gate pemberangkatan yang malam sebelumnya udah kita cari-cari. Jalannya lumayan jauh, dan untungnya kita udah tau lokasinya. Sampai di sana masih nunggu kurang lebih sejam karena pesawat baru akan take off pukul 06.00. sambil nunggu, kita nyoba2 fasilitas di sana, termasuk mesin pijat kaki yang disediakan. Tentu saja gratis, mana mau kalo bayar!

Sebelum masuk pesawat, kembali barang2 diperiksa. Baru kita diperbolehkan naik. Dan mulailah perjalanan panjang dan melelahkan itu.

Jumat, 11 Juli 2008

changi



Wuih.. baru nyampe di Changi, wis langsung gumun. Lampune kelap-kelip, padang njingglang, membuat Soekarno Hatta jadi suram temaram. Bandara di Singapura ini memang besar, lebih mirip mall yang rapi. Begitu datang langsung nyari temapt untuk transfer ke penerbangan selanjutnya. Jebule adooooh tenan. Untung pemandangan menarik. Lewat toko-toko minuman yg jual vodka langsung inget Edi Taslim, Tommy, dan cah kenthire Boyolali. Sopo maneh nek dudu kethek.

Terus lewat tempat jualan parfum, inget harumnya perempuan-perempuan.. Halah.. Sayang gak ada toko sepeda di Changi, atau mungkin ada ya?

Setelah cari lokasi transfer, (ketemu dan ternyata dipenuhi banyak perempuan berselimut selendang batik yang klekaran di karpet dan sofa, mesti kancane Sudar ki) aku dan rombongan (cuma bertiga sih), cari lokasi istirahat. Kebetulan Northwest airlines menyediakan tempat lesehan. Sayang, tempat tidurnya penuh, jadi ya wis, neng sofa ae. Setidaknya ini memang tempat istirahat...

Ruangan yang diterangi lampu-lampu kuning ini suasananya cozy. Ada makanan, shower, sofa, dan akses internet. Pas buka kompas.com, salah satu HL-nya masih jam 18, padahal sekarang pukul 21.00. Hahahaha...

Tadi pas nyari tempat transfer sempat ketemu seorang bapak dari Bandung yang juga mau ke Minneapolis. Pertemuan dengan Pak Santosa itu sedikit melegakan hati. Pasalnya, ntar kalo pas masuk US, aku harus masuk ke ruang "interogasi" khusus, setidaknya bakal ada barengannya. maklum, sejak di Kedubes, aku udah diwanti-wanti bahwa pria dr Indonesia 99,9 persen bakal dipanggil security untuk diinterogasi.

Yah, semoga apapun yang terjadi nanti, bisa jadi bahan cerita menarik dan pengalaman unik.

wsn, changi, 11 Juli 2008.